Kerokan bukan lagi terapi kampung

kerokan

Kejadian ini terjadi di Ruwais, Uni Emirat Arab beberapa waktu yang lalu dan tersebar di beberapa mailing list (milis).
Alkisah, seorang ibu Indonesia yang bermukim di Ruwais mengantarkan anaknya berobat, karena sakit demam. Ketika sampai di rumah sakit, sang dokter begitu terkejut ketika melihat sekujur tubuhnya bergaris-garis merah seperti kena cambukan.
Dengan keterbatasan bahasa Inggris yang dipunyai sang ibu, dia berusaha menjelaskan kenapa ada garis-garis merah di seluruh tubuh sang anak. tetapi sang dokter tidak percaya bahkan semakin curiga ada unsur penyiksaan dan bahaya dalam kasus ini. Apalagi setelah sang anak menjawab “Yes” ketika ditanya “did your mother hit you?”
Tidak ada ampun, dokter itupun segera melaporkan ibu ini kepada polisi Ruwais. Masalah kemudian bertambah ruwet dan meluas, ketika sang ayah pun dipanggil ke kantor polisi.
Investigasi sektoral dilakukan marathon kepada keluarga Indonesia ini. Tidak bisa dibayangkan seharian harus berurusan dengan polisi, hanya gara-gara”kerokan”. Dan polisi tidak akan melepas status mereka sebelum sang dokter mencabut pengaduannya.

Cerita beberapa jam berikutnya di RS, sang dokter tersebut menerima lagi pasien anak Indonesia dengan penyakit yang sama, yaitu : flu, demam dan sakit kepala. Saat diperiksa, betapa terkejutnya sang dokter ketika melihat garis-garis merah yang serupa dengan anak Indonesia yang diperkarakan sebelumnya. Terjadi tanya jawab yang agak lepas antara ibu sang pasien dengan sang dokter.
Dokter akhirnya memaklumi dan menyimpulkan bahwa “kerokan” adalah pengobatan tradisional ala Indonesia. Dia berpesan kepada sang ibu untuk tidak melakukannya lagi karena alasan berbahaya.
Memang bagi sebagian dokter yang tidak paham seperti dokter di Ruwais tadi, akan menganggap bahwa kerokan berbahaya karena menyakiti tubuh. Tapi, tengoklah apa yang dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama dari etnis Jawa ketika mereka demam; mengambil uang koin lima ratus/ seratus perak lalu minyak kelapa dan balsem dan minta dikeroki. Saya sendiri pun sering minta kerok jika sedang tidak enak badan. Dengan demikian, kerokan dapat dianggap sebagai terapi yang mengakar dan membudaya.
Namun apakah kerokan berbahaya dan bagaimana sebenarnya efeknya pada tubuh? Tunggu saja ulasannya dari segi ilmiah besok hari.Sekarang udah ngantuk dan pulang kehujanan dari warnet….dikerok dulu ah.

Popularity: 11% [?]

6 thoughts on “Kerokan bukan lagi terapi kampung

  1. Good info, plenty of thank you to the author. It’s puzzling to me now, on the whole, the usefulness as well as significance is overpowering. Drastically thanks once more and better of luck!

  2. I simply want to meinton I am just new to blogging and site-building and seriously loved you’re web page. Very likely I’m want to bookmark your blog . You surely have remarkable articles. Many thanks for revealing your web site.

  3. So glad you like them! We had a blast singing and cbnaeretilg and just showing appreciation for Dad. I am SO grateful for him and the godly character he models for me! Hope y’all are doing well!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website