Dokter juga manusia: ada yang jahat-ada yang baik

Miris juga hati membaca curhat dari blognya mbak sri disini. Betapa tidak, ternyata profesi dokter makin menyedihkan saja. Ternyata ada juga dokter yang bertindak demikian, yang mungkin hanya mengejar materi dan melupakan sumpah yang pernah diucapkannya di atas kitab suci. Saya turut bersimpati terhadap kejadian tersebut.

Namun menanggapi kasus tersebut, saya tidak membela siapa-siapa. Saya sendiri merasa sangat berat menyandang profesi ini. Saat menjalankan pendidikannya saja sudah sangat berat, betapa mental hampir dibuat jadi gila karena sistemnya yang benar-benar mengerikan. Tidak akan dapat dibayangkan kecuali merasakannya sendiri.

Pintar itu tidak penting dalam dunia kedokteran, karena semuanya dianggap telah pintar saat kita lulus masuk FK. Namun, yang paling penting di FK adalah attitude-yang higga kini saya masih bingung dengan batasa-batasan attitude tersebut. Salah satu dosen saya yang masih menyimpan kenangan pahit dalam masa pendidikannya sempat menuangkannya di blog ini, padahal kejadiannya sudah 20 tahun lalu.
Saya sendiri pun merasakan pahitnya pendidikan dunia kedokteran di saat kami harga diri diinjak-injak pada jaman koas, saat diskriminasi antara darah keturunan dokter dan “darah lumpur” terlihat begitu jelas. Saat antara yang pintar dan bodoh menjadi terbalik. Bisa saja yang pintar tidak lulus padahal ia belajar 20 jam dalam sehari, sedangkan yang tidak tahu anatomi dasar saja bisa lulus dalam ujian dengan nilai “A”.

Itulah sebabnya mengapa tidak semua dokter memiliki hati malaikat, tidak semua dokter mencintai pekerjaannya, karena mereka hanya menuruti perintah orang tua atau hanya karena gengsi.

Sedangkan para dokter yang memang memiliki niat menolong menjadi ikut tercemar kehormatannya. Namun, mereka tidak perduli dengan semua cemoohan ataupun pujian, yang mereka inginkan hanyalah kepuasan saat melihat senyuman pasiennya yang kembali sehat, pulihnya kondisi pasien yang hampir menjelang maut, kepuasan batin saat pasien mengucapkan terima kasih-walaupun semua itu tanpa dibayar. Yah, saya yakin masih banyak teman sejawat yang memiliki hati demikian, sayapun sedang berusaha mencoba menjadi dokter yang baik. Hanya saja saya takut dengan “sistem” yang sengaja dibuat agar “hati nurani” dokter menjadi tumpul, sistem yang tidak tahu darimana asalnya.

Semoga saja dengan membaca kisah dari mba sri tersebut, tidak ada lagi dokter yang mengulangi kesalahan yang sama. Saya yakin, kadangkala kesalahan itu tanpa disengaja, dokter bukanlah robot yag bisa bekerja tanpa lelah-suasana hatinya juga bisa sedang dalam keadaan buruk, disaat itulah para dokter dituntut untuk dapat mengendalikan diri.

Popularity: 8% [?]

One thought on “Dokter juga manusia: ada yang jahat-ada yang baik

  1. Setiap profesi ada sisi gelapnya. Profesi medis yang berkaitan dgn nyawa manusia selalu diharapkan tampil ‘putih’.
    Salam untuk para dokter yang berhati bening…
    Saya senang dengan tags blog ini: Apapun yang terjadi, patut disyukuri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website